Permintaan CPO Naik Terus
Source: Bisnis Indonesia | Date: 24 AUG 2010 | Author: Berliana Elisabeth S. & Yusran Yunus
Sampai akhir tahun berpeluang sentuh US$1.000 per ton JAKARTA: Permintaan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) diprediksi naik terus sehingga berpotensi mendorong harga ke level US$800US$1.000 per ton sam pai akhir tahun.
Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Firzal Mutyara mengatakan Indonesia sebagai negara produsen terbesar CPO saat ini harus dapat memanfaatkan momentum tren meningkatnya permintaan itu dengan memacu ekspor.
“Selain permintaan dari negara-negara Eropa dan AS, permintaan dari China dan India diperkirakan akan terus meningkat karena tingginya kebutuhan industri-industri dalam negeri di negara itu,“ katanya kepada Bisnis, kemarin.
Dia mengungkapkan saat ini harga CPO sudah terbentuk pada kisaran harga US$875US$912 per ton, sehingga sampai akhir tahun ini berpeluang menembus US$1.000 per ton.
“Beberapa negara Eropa seperti Rusia menghadapi kendala alam seperti banjir yang berdampak pada gangguan panen komoditas strategis seperti gandum, kedelai. Faktor ini ikut memicu permintaan CPO di pasar dunia.“
Menurut dia, negara jiran Malaysia yang dikenal sebagai produsen CPO dunia, juga menghadapi situasi gangguan panen di sejumlah sentra produksi CPO karena curah hujan tinggi yang menyebabkan banjir.
“Akibatnya pasokan CPO luma yan ketat dan memengaruhi har ga CPO di pasar dunia,“ ujarnya.
Dia berharap pemerintah dapat membantu menyelesaikan se jumlah kendala di dalam negeri seperti keterbatasan infrastruktur di sentra produksi CPO, beban pa jak yang cukup berat.
“Jika beberapa kendala itu bisa teratasi, ekspor CPO Indonesia dapat terus ditingkatkan.“
Kementerian Pertanian menca tat Indonesia masih menjadi eksportir utama minyak kelapa sawit mentah dunia yakni 45% atas pasokan CPO global, disusul oleh Malaysia 43%.
Direktur Tanaman Tahunan Ditjen Perkebunan Kementan, Mukti Sardjono mengungkapkan pada tahun ini produksi CPO akan mencapai 23,2 juta ton dengan luas lahan sebesar 7,82 juta hektare dan produktivitas sebesar 3.717 kg per hektare.
Pada tahun lalu, luas area tanaman sawit mencapai 7,5 juta hektare dengan produksi seba nyak 21,51 juta ton serta produk tivitas sebanyak 3.711 kg per hek tare.
“Pada 2020, kami targetkan produksi CPO mencapai 40 juta ton dengan area 9,12 juta hektare dan produktivitas 4.500 kg per hektare,“ katanya.
Kebutuhan meningkat Dia menambahkan pada 2020 kebutuhan CPO untuk minyak goreng dalam negeri akan men capai 8 juta ton, untuk sabun, margarin dan oleokimia menca pai 2 juta ton, sedangkan untuk biofuel dengan kebijakan energi biofuel 10,2% akan mencapai 46,11 juta ton.
“Dengan demikian perlu adanya upaya khusus untuk memenuhi kebutuhan CPO ke depannya.“
Harga minyak sawit berjangka naik setelah penurunan terbesar dalam lebih dari 10 bulan terakhir.
Kontrak untuk pengiriman November naik sebesar 0,9% menjadi 2.568 ringgit atau US$821 per ton di bursa Malaysia Derivatives Exchange. Harga minyak sawit anjlok 6,4% pekan lalu.
Harga minyak sawit ber jangka ditutup menjadi 2.555 ringgit pada sesi pagi.
“Setelah pekan lalu diobral, short covering atau pembelian kembali setelah harga turun, membantu mendongrak harga pasar,“ kata Alimuhammad Lakdawala, analis AnandRathi Commodities Ltd di Mumbai, seperti dikutip Bloomberg, kemarin.
Sementara itu harga kedelai untuk pengiriman November naik sebesar 0,7% menjadi US$10,1075 per bushel di Chicago.(T04) ( berliana.elisabeth@bisnis.co.id/yusran.yunus@bisnis.co.id )